Cerita Saham #1 | Perjalanan Mengenal Saham

Awal mula saya tertarik dengan saham adalah ketika mengikuti sebuah berita bisnis di Bloomberg TV, yang sekarang sudah tidak ada. Kejadiannya sekitar tahun 2011 (saya masih smp saat itu). Pada salah satu isi berita, membahas tentang rencana akuisisi Facebook oleh Yahoo yang gagal setelah Mark Zuckerberg menolak tawaran yang diberikan Yahoo, berkisar 1 miliar USD atau 9 triliun rupiah *kalau tidak salah. Saya mengagumi Mark saat itu sekaligus menganggapnya seorang yang gila. Di usianya yang sangat muda, dia berani menolak tawaran yang menurut saya : jika dia menerima tawaran itu, kehidupannya akan enteng-enteng saja sampai kapanpun. Dari berita itu juga disampaikan Mark memiliki pandangan yang jelas tentang bagaimana Facebook kedepannya. Harga yang ditawarkan Yahoo saat itu tidak sebanding dengan nilai Facebook yang telah diperkirakannya di masa yang akan datang. Pada akhirnya, Yahoo berakhir dengan di-akuisisi oleh Verizon di tahun 2017 senilai 4,48 miliar USD. Pada tahun 2020, saat ini Facebook memiliki nilai kapitalisasi pasar 849,49 miliar USD atau sekitar 12.572 triliun rupiah.

Masih di stasiun tv yang sama, juga terdapat sebuah program “Pialang Saham”. Acaranya membahas tentang dunia per-saham-an. Di salah satu episode, Warren Buffet menjadi topik saat itu, si orang kaya dari saham. Dia masuk ke jajaran orang paling berduit di dunia ini. Dari acara itu juga saya mulai mencari tahu, siapa sebenarnya si Warren Buffet ini. Setelah membaca di sana sini, saya mulai mengenal siapa dia. Seorang investor saham terkemuka yang menjadi panutan bagi para investor lainnya. Dalam beberapa laman internet, juga dalam isi acara tersebut dijelaskan bahwa Warren Buffet adalah seorang investor yang menginvestasikan uangnya ke dalam saham-saham perusahaan kecil berfundamental baik yang belum dilirik oleh sebagian besar investor lainnya. Dia selalu menanam duit di perusahaan-perusahaan seperti itu sembari memikirkan prospek kedepannya. Setelah beberapa waktu berlalu, beberapa perusahaan tersebut menjadi besar dan Buffet menerima imbal hasil yang berkali-kali lipat dari harga awal pembelian sahamnya. Walau dalam kisahnya juga diceritakan bagaimana perjuangan Buffet di masa-masa sulit saat itu, tapi pada akhirnya dia berhasil seperti apa yang ada sekarang.

Saya sangat penasaran tentang bagaimana perilaku Buffet dalam investasi saham. Saya kembali menelusuri segala hal tentang dia di internet. Dalam sebuah laman internet, disebutkan bahwa ada satu buku yang direkomendasikan Buffet untuk wajib dibaca oleh calon investor sebelum memulai memasuki pasar saham. Buku itu adalah “The Intelligent Investor”, karangan Benjamin Graham, yang juga seorang ekonom terkenal. Sejak saat itu, saya berkeinginan untuk memiliki buku tersebut.

Hari berlalu, saya mulai tertarik dengan berita bisnis, akuisisi perusahaan dan pergerakan harga saham. Tapi masih dalam tingkatan sebatas ingin melihat beritanya saja, tidak sampai mendalami.

Di tahun 2018, sejak memasuki bangku perkuliahan di semester 2, saya memiliki keinginan untuk membuka rekening saham. Tapi sebelum membuka rekening saham saya berkomitmen harus membaca buku yang direkomendasikan oleh si Warren Buffet terlebih dahulu. Awalnya saya mulai mencarinya di Gramedia terdekat, rencananya saya menginginkan buku terjemahan yang ori, tapi tidak pernah ada. Memang buku tersebut adalah terbitan lama. Saya pernah search di Google, di situs amazon, buku nya ada, tapi harganya mahal. Setelah itu, saya beralih memilih buku yang tidak ori saja, hahaha… memang kurang pantas, tapi apa boleh buat lah yakan, dana tidak mencukupi. Akhirnya saya memesan buku tersebut dari Shoppe dengan harga miring, iya harganya 35.000.

Saya mulai membaca lembar demi lembar buku itu. Dan pada akhirnya malas. Tebalnya sampai 800 halaman cui. Dan pembahasannya di awal-awal itu pakai istilah ekonomi semua. Saya yang tidak punya dasar ekonomi jadi semakin sulit, iya saya jurusan ipa semasa sma. Semangat saya awalnya menggebu-gebu, ingin membaca buku itu satu malam selesai, berharap ilmu investasi bisa langsung diturunkan ke kepala saya dan besoknya bisa langsung buka rekening saham. Tapi yang terjadi adalah saya menganggurkan buku itu selama 3 semester.

Sebelum itu, saya juga belum punya rekening bank biasa. Keuangan saya diatur oleh abang saya, soalnya saya juga tinggal bersamanya sejak kuliah. Jadi ketika ada kiriman dari orang tua, abang saya yang akan me-manage keuangan kami. Baru di semester 6 pertengahan tepatnya bulan maret/april, ketika pandemi covid-19 merebak, pembelajaran online dilakukan oleh pihak kampus dan kampus memberi kami bantuan pulsa 150 ribu perbulan selama 3 bulan terakhir. Bantuan pulsa itu hanya dikirimkan ke rekening atas nama mahasiswa yang bersangkutan, dan akhirnya saya membuka rekening bank, saya pakai bni.

Dalam mengisi waktu kosong selama pembelajaran online itulah saya mulai membaca kembali buku The Intelligent Investor yang terlupakan. Saya membaca bab demi bab, dan cukup lama hingga tiba di bab 10 dari 20 bab keseluruhan. Lama memang, saya bahkan membutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk membaca sampai sejauh itu. Banyak poin-poin penting dari ajaran Benjamin Graham yang sangat menarik di buku tersebut. Mulai dari bahasan yang sederhana hingga yang paling sulit dimengerti. Dijelaskan bagaimana pentingnya melakukan analisis fundamental terhadap perusahan yang akan dibeli sahamnya. Juga tentang bagaimana harus sabar dalam menghadapi pasar yang menguras emosi. Dalam prinsipnya, buku ini banyak menyampaikan pesan penting nan filosofis, semisal : Belilah saham dari seorang yang pesimis dan jual kepada seorang yang optimis.

Setelah merasa cukup (baca: bosan) dalam membaca buku rekomendasi dari Warren Buffet tadi, saya kemudian mulai memikirkan bagaimana mendaftarkan rekening saham. Sebelumnya, saya berencana membuka rekening saham melalui aplikasi Stockbit, yang bermitra dengan sinarmas sekuritas. Tapi oleh karena satu dan dua hal, saya akhirnya batal mendaftar lewat Stockbit. Setelah menelusuri informasi di dunia maya, saya mendapat rekomendasi dari beberapa blog untuk menggunakan IndoPremiere, yang bermitra dengan Bank Permata. Setelah melakukan registrasi secara online, tidak beberapa lama setelah hari pendaftaran, akun rekening saham saya selesai dibuat. Ini pencapaian yang besar menurut saya. Setidaknya, satu langkah telah selesai. Kini menatap ke langkah berikutnya, yaitu transfer duit ke rekening saham.

Saya yang masih baru mendaftarkan rekening setelah duduk di bangku kuliah sangat kikuk ketika harus melakukan transfer antar bank ke rekening saham. Oia, cara transfer duit ke rekening saham ternyata caranya sama seperti transfer ke rekening bank biasa. Saya menggunakan mobile banking, dan melakukan transfer duit 500 ribu, untuk coba-coba dulu di awal, haha.. Saya transfer duit di hari Senin dinihari, sekitar jam 3 atau jam 4 pagi, dan besoknya di jam 9 pagi, duit tadi sudah kedetect di aplikasi IPOT, milik IndoPremiere tadi. Biaya admin 6.500, dan itu menjadi transferan duit pertama ke rekening saham, sungguh pencapaian yang bagus..

Dalam melakukan pembelian saham, bisa melalui sekuritas/broker. Sewaktu memilih broker harus mempertimbangkan layanan seperti apa yang mereka tawarkan, apakah aplikasi mereka ada kendala atau tidak, bagaimana testimoni pengguna yang lain, dan yang paling utama adalah memperhatikan biaya transaksi-nya. Fee jual dan beli. Di IndoPremiere sendiri, fee beli 0,19% dan jual 0,29% dari nilai transaksi saham. Sebenarnya masih ada sekuritas lain dengan fee transaksi yang lebih murah, tetapi syarat pembukaan rekening saham di sekuritas yang lain itu macam-macam. Ada yang minimal setor dana awal 10 juta, ada yang pendaftarannya harus melampirkan berkas fisik, ini itu dan lainnya. Berbeda dengan IndoPremiere yang tidak memberi syarat setor dana awal minimal dan pendaftaran akun rekening saham dilakukan full online. Tidak perlu melampirkan berkas fisik. Pada akhirnya, saya rasa IndoPremiere cocok menjadi sekuritas pertama saya, walau tidak menutup kemungkinan di masa depan akan berganti sekuritas.

Tibalah hari dimana saya akan melakukan transaksi saham perdana. Perasaan menggebu-gebu ingin segera cepat kaya dengan membeli saham yang akan naik puluhan persen dalam waktu sekejap. Apalagi setelah membaca buku The Intelligent Investor kemarin, saya sangat yakin bisa mengalahkan pasar saat itu, percaya diri yang keterlaluan tinggi.

Dalam buku The Intelligent Investor disebutkan agar membeli saham yang murah dan tidak populer tetapi memiliki fundamental yang bagus dengan prospek yang cukup menjanjikan. Saya memegang prinsip itu di awal. Beberapa saham murah saya masukkan ke dalam watchlist. Tetapi beberapa yang lainnya adalah saham bluechips. Sekalian ingin memantau pergerakan saham besar, begitu pemikiran saya saat itu.

Transaksi dimulai di pukul 09.00 pagi – 11.30 untuk sesi 1 dan 13.30 – 14.50 di sesi 2. (Karena situasi pandemi), waktu sebenarnya berbeda saat kondisi normal.

Bebeberapa menit menuju jam 10, setelah mengamati beberapa saham yang menurut saya memenuhi kriteria dari buku tadi, saya memutuskan membeli saham WSKT (Waskita) di harga Rp. 625 sebanyak 1 lot, ASRI (Alam Sutra) di harga Rp. 120 sebanyak 5 lot, PWON (Pakuwon Jati) di harga Rp. 394 sebanyak 2 lot, dan TOTL(Total Bangun Persada) di harga Rp. 296 sebanyak 2 lot. Total belanja saya saat itu adalah Rp. 260.983 (sudah termasuk fee beli). Masih di hari yang sama, menuju sore hari, portofolio saya menjadi warna merah. Saham-saham yang tadi turun sekitar 1%. Sebagai seseorang yang telah membaca buku rekomendasi Warren Buffet *essss bacot, saya merasa sangat wajar penurunan terjadi. Sebelumnya saya juga memutuskan bahwa adalah tipe long-term investor. Saya akan hold saham tersebut walau merah. (terkait fundamentalnya, saya sebenarnya kurang yakin. Saat itu saya belum mengerti cara-cara menganalisis fundamental perusahaan. Saya banyak membaca kolom komentar saham terkait di beberapa aplikasi dan banyak yang menyebutkan sahamnya bagus. Sepertinya saya terkena pom-pom atau apalah istilahnya).

Setelah hari itu, besoknya saya kembali memperhatikan pasar. Portofolio saya masih merah semua. Saya mulai khawatir. Baru satu hari lo ya.. Saya perhatikan top stock yang sedang naik harga-nya, ada beberapa saham yang naik sampai 30%. Entah kenapa saya tidak memilih saham itu kemarin, pikir saya. Saya memang tidak mengenal sahamnya. Tapi akan sangat menyenangkan kan kalau bisa memperoleh kenaikan saham seperti itu di transaksi perdana, hahaha. Seketika prinsip saya yaitu long-term investor mulai bergoyang. Rasanya ingin cepat-cepat memperoleh keuntungan yang besar.

Masih di hari kedua, saya masih memiliki duit Rp 240.000 lagi. Saya memperhatikan bahwa kenaikan saham didominasi oleh perusahaan berbau farmasi. Saya perhatikan sentimen ke-farmasi-an sangat kuat sebagai akibat dari produksi vaksin yang akan segera dilakukan. Beberapa saham perusahaan farmasi terkemuka, seperti KAEF (Kimia Farma) dan INAF(Indo Farma) melejit. Kenaikannya hari itu mencapai 20% dan sudah berlangsung sejak kemarin. Salah satu saham perusahaan distribusi barang farmasi juga naik, yaitu PEHA (Phapros). Saham PEHA ini sebelumnya saya tidak begitu kenal. Saya baru melihatnya saat mengecek top gainer saat itu. Kenaikannya mencapai 24%, di harga Rp. 2000. Entah apa yang merasuki saya saat itu, saya membeli saham tersebut 1 lot, seharga Rp. 200.000. Saya yakin besok saham ini masih akan naik. Pembelian ini saya lakukan di sesi 1, di pagi hari.

Dan entah karena apa, kenaikan saham ini perlahan menurun, menuju 22% – 23% dan di tutup di 22% di hari itu. Dari yang semula saya membeli PEHA di kenaikan 24% di pagi hari, turun menjadi 22% di penutupan sesi ke 2. Saya melihat portofolio semakin merah. Di saham PEHA ini saya sudah turun 2% dari Rp. 200.000 hanya di satu hari pertama. Saya gusar. Saya mulai merasa hal yang tidak mengenakkan hahahaha….

Di hari berikutnya, hari ke 3 saya mengenal pasar, saham TOTL, WSKT, sudah hijau, naik tipis. Tetapi saham ASRI dan PWON masih merah. Dan yang lebih parah adalah saham PEHA kembali turun, harganya saat itu menjadi Rp. 1900. Saya minus 10.000 hanya dari saham ini. Tidak begitu lama, menuju sesi kedua, harga PEHA masih berada di Rp. 1900-1920, saya akhirnya menjualnya di harga Rp. 1900. Saya rugi, hahaha…

Baru 3 hari berjalan, saya memutuskan menjual seluruh saham saya yang baru beberapa hari saya beli. Dari semula duit saya 500.000 kini tinggal sekitar 488.000, saya rugi 12 ribu (sudah termasuk fee transaksi). (backsound : kumenangiss….)

Di hari Sabtu, ketika pasar rehat, saya kembali membaca buku The Intelligent Investor. Saya bertanya-tanya kenapa hal aneh beberapa hari terakhir bisa terjadi, padahal sebelumnya saya cukup yakin bisa mengalahkan pasar. Saya membaca beberapa baris kalimat yang sengaja saya coret-coret karena kata-katanya cukup menarik. Saya mendapati baris kalimat : Bahwa kesabaran adalah kunci dalam berinvestasi. Dikatakan juga dibeberapa baris berikutnya, bahwa seorang investor yang tidak memiliki arah yang jelas tidak akan tahan menahan saham dalam hitungan bulan (1 bulan), 1 minggu, atau bahkan 1 hari. Investor tipe seperti itu tidak memiliki pedoman dalam melakukan transaksi. Terkesan gila akan kenaikan harga saham, tanpa merasa perlu mengetahui saham apa yang sedang ingin dibelinya. Selalu percaya akan spekulasi yang dibangun dirinya sendiri, terpengaruh harga pasar, dan tidak mempertimbangkan hal lain. Sangat mudah dibutakan oleh ticker saham yang menghijau dengan kenaikan 2 digit.

Saya merasakan hal yang dijelaskan di buku tersebut sangat sesuai dengan diri saya di 3 hari yang telah berlalu. Benar-benar tepat. Panic buy hanya karena harga sedang naik, takut ketinggalan mendapatkan harga rendah. Hahaha… saya mulai sadar, hal yang disampaikan di buku itu benar terjadi.

Beberapa hari berselang, saya menambah amunisi ke rekening saham saya dengan melakukan transfer Rp. 200.000, iya kena biaya admin lagi 65o0. Total sudah Rp. 13.000 pengeluaran saya hanya untuk biaya admin bank. Sungguh sesuatu yang buruk, walau di sisi positifnya saya mulai terbiasa melakukan transfer antar bank via mobile banking, saya tidak kikuk lagi hahaha…

Memasuki hari senin, hari pertama pasar di minggu yang panjang, saya memiliki total amunisi Rp 688.000 yang siap saya belanjakan saham yang semoga kali ini tepat. Kali ini harus tepat, ucap saya setengah yakin setelah memperhatikan kembali top gainer yang naik sampai 2 digit. Dan untuk yang kedua kalinya, entah apa yang merasuki saya, saya membeli saham CENT(Centratama Telekomunikasi) yang trending dan berada di top gainer no 1 pada perdagangan hari itu di sesi 1 dengan harga Rp.147. Saya membelanjakan duit saya hari itu di saham CENT sekitar 75%. Mendekati penutupan sesi ke 2, hal yang sama terjadi lagi. Iya, CENT turun beberapa persen dari kenaikannya yang hampir 19% hari itu. Saya kembali gagal menerapkan apa yang ada di buku itu.

Untuk pertama kalinya saya menyaksikan portofolio minus 45.000, sungguh miris, hahah.. saya sangat sedih hari itu. Bagi saya itu sudah sangat banyak. Pada minggu itu, saya tetap mempertahankan saham CENT, karena minusnya lumayan dalam. Memang ada pergerakan tipis-tipis, tapi sampai penutupan sesi ke 2 di hari Jumat minggu tersebut, saya masih merugi.

Lanjut di hari minggu berikutnya, di hari senin pagi, saya memperhatikan orderbook saham CENT dengan seksama. Di awal pembukaan pasar masih sama, minus. Sesi 1 ditutup dengan perubahan tipis, naik sedikit. Memasuki sesi 2 di jam 2 siang, harga CENT tiba-tiba melejit kembali, bahkan mencapai harga Rp. 162. Saya yang sejak awal berharap, jika harga CENT kembali ke nilai awal pembelian, saya akan langsung menjualnya, dan saya akan sangat bersyukur jika itu terjadi. Tapi yang saya lakukan adalah sebaliknya. Saya memperhatikan portofolio yang tiba-tiba hijau perlahan-lahan, mencapai keuntungan di angka 30 ribuan. Saya tiba-tiba sangat yakin harganya akan kembali naik dan niat saya di awal tadi jadi terlupakan. Saya tergiur pergerakan positif yang baru saja terjadi. Sampai pada menit akhir penutupan sesi ke 2, saya memutuskan nge-hold saham tersebut, dan kembali berspekulasi bahwa besok hari akan lebih cerah. Padahal jika saya jual tadi saham CENT di harga terakhir pasar, sebenarnya saya akan menutupi rugi yang terjadi di PEHA kemarin, dan bahkan masih memiliki keuntungan beberapa puluh ribu.

Keesokan harinya, sesi 1 pembukaan pasar, saham IHSG rata-rata memerah, termasuk saham CENT. Saya masih yakin untuk tidak menjual saham walau keuntungan mulai tergerus. Saya berharap besok CENT kembali hijau.

Beberapa hari berlanjut di minggu itu, harga CENT menurun secara beruntun hingga ke titik awal saya rugi kemarin. Sungguh sangat ironi ya..

Saya menunggu sampai ke minggu berikutnya hingga saham CENT kembali naik, dan kali ini saya menjual CENT di harga Rp.152, naik 5 rupiah dari harga belinya. Saya untung tipis, cukup untuk menutup biaya transaksi. Saya selesai dengan saham CENT pada minggu itu. Dan setelahnya saya senyum beberapa saat setelah kembali memikirkan apa yang telah terjadi.

Ada waktunya saya sudah mendapat keuntungan yang cukup, tapi saya merasa itu masih kurang. Selalu begitu sampai pada akhirnya saya mendapatkan harga yang berada di bawah level keuntungan yang pertama tadi.

Kembali, buku itu berkata benar, tentang apa yang sudah terjadi. Saya banyak merenung setelah itu. Membaca lembar demi lembar buku tersebut dan lanjut memulai perburuan saham lagi.

Di beberapa minggu setelahnya, saya bertekad penuh untuk tidak melakukan hal yang sama. Prinsip saya menjadi kabur. Awalnya saya tidak berpikiran untuk melakukan short-term transaksi, tapi semakin ke sini, saya semakin memikirkan untuk melakukannya. Pada akhirnya, masih dalam situasi saya yang tidak jelas arahnya, saya kembali membeli saham TDPM (Tridomain Performance Materials) yang lagi-lagi berada di top gainer, dengan kenaikan dua digit.

Hal yang terjadi pada saham TDPM adalah sama persis dengan CENT. Saya membeli di pucuk, kemudian harga turun ke dasar, lalu beberapa hari berikutnya naik hingga berada di keuntungan 80.000, dan kembali tidak saya jual karna yakin masih bisa lebih tinggi. Dan di waktu berikutnya, harganya anjlok kembali, iya persis seperti CENT. Saya baru bisa menjualnya setelah menahannya beberapa hari dan mendapat keuntungan yang tipis sekali, juga lagi-lagi hanya cukup menutupi biaya transaksi.

Selepas dari saham TDPM, lagi lagi hal yang sama terulang kembali. Saya membeli di harga pucuk setelah melihat BBKP(Bank Bukopin) menjadi top gainer. Tapi bedanya, ketika saya membeli BBKP di pucuk, di harga Rp. 262 dan harga Rp. 286, dengan average Rp. 270, beberapa hari kemudian harga BBKP memang benar-benar naik. Harganya menyentuh Rp. 310. Sentimen pasar sangat positif, terkait dengan pergantian pengendali bank. Walau sudah berada di harga tinggi seperti itu, saya kembali tidak menjualnya. Harga kemudian naik turun tetapi tidak pernah menyentuk RP. 310 lagi.

Saya salah lagi kan ?, hahahah….

Bukan ….

Saya memutuskan untuk menahan saham BBKP tersebut. Saya ingin kembali ke prinsip awal saya untuk memegang saham dalam waktu yang lama karena saya yakin akan pertumbuhan perusahaannya ke depan. Saya sudah memegang BBKP selama lebih dari 1 minggu dengan segala fluktuasi pasar yang terjadi. Dan saya berencana untuk menahannya lebih lama lagi.

Setelah kejadian yang sudah-sudah, saya merasa memiliki prinsip/arah yang jelas tentang tujuan terjun ke dalam pasar saham adalah hal yang sangat penting. Saya mulai berpikir untuk membuat trading plan yang baik ke depannya jika memang ingin bermain trading saham, dan belajar analisis fundamental jika akan melakukan investasi jangka panjang.

Tentu ada benarnya kata orang-orang,

seseorang yang tidak belajar dari sejarah akan dikutuk untuk mengalaminya kembali

Salam,

Harga BBKP per-tulisan-ini saya publish berada di level Rp. 278, iya merosot, hahaha.